Wednesday, December 9, 2009

tafsir surat Yakubos

BY ANDRI PAK
BAB I
PENDAHULUAN

Latar belakang Surat Yakobus
Dalam Kitab Perjanjian Baru, terdapat sekitar dua puluh satu surat. Diantaranya tiga surat kiriman Paulus ketika belum di penjara. Enam surat kiriman Paulus yang ditulis di dalam Penjara, Empat surat Paulus untuk Timotius yang merupakan surat-surat pastoral atau penggembalaan. Dan juga tujuh suratAm. Dalam surat Am tersebut, terdapat satu surat yang di tulis oleh Yakobus. Yakni Surat Yakobus.
Surat Yakobus ini memiliki ciri khas tersendiri dibanding denga surat-surat yang lain. Surat Yakobus merupakan surat yang unik, dan harus melelui beberapa proses sehingga dapat menjadi salah satu bagian kanon Alkitab yang ada seperti sekarang ini.
Surat Yakobus hanya lama kelamaan diterima oleh Gereja sebagai Kitab Suci. Agaknya di Mesir Yakobus tidak pernah diragukan sebagai Kitab Suci. Yakobus dikutip oleh Origenes sebagai karangan suci. Tetapi pada awal abad keempat Eusebius dari Kaisarea (Palestina) mengatakan bahwa Yakobus masih ditolak oleh sementara orang. Jemaat-jemaat yang berbahasa Siria baru dalam abad keempat memasukkan Yakobus ke dalam daftar kitab-kitab sucinya
Dari kutipan diatas, dapat dikatakan bahwa surat Yakobus harus melalui proses untuk dapat menjadi suatu bagian dalam kitab surat-surat dalam Perjanjian Baru. Sekalipun surat Yakobus ini adalah surat yang memiliki usia yang paling tua. Surat yang paling awal ditulis.
Diantara surat-surat yang ada dalam Kitab Perjanjian Baru, Surat Yakobus merupakan surat yang pertama diantarasejumlah surat yang ditujukan secara umum kepada orang Kristen, bukan kepada jemaat tertentu. Surat Yakobus juga merupakan salah satu surat yang sangat unik, sederhana, dankontroversial. Surat ini merupakan surat yang sederhana karena hanya terdiri dari lima pasal saja. Selain itu, bahasa yang digunakan juga sangat mudah untuk dipahami dan dimengerti apa maksud surat ini ditulis. Surat ini banyak berisi nasihat-nasihat yang berkaiatan dengan kehidupan sehari-hari.Akan tetapi, surat ini juga sangat kontroversial karena dalam surat ini, banyak ditemukan mengenai kitab ini yang sulit untuk dijelaskan. Siapa penulisnya? Apakah kiab ini memilii hubungan dengan bagian-bagian yang lain? Dan masih banyak lagi hal-hal yang membuat para penafsir kitab ini mengalami kontroversi.
Penulis surat Yakobus
Surat Yakobus ini ditulis oleh Yakobus. Namun Yakobus yang mana yang dimaksudkan, sehingga terjadi perdebatan mengenai siapa Yakobus yang menuliskan surat ini. Ada yang mengatakan Yakobus anak Alfeus, ada yang menafsirkan Yakobus saudara Yesus. Nama Yakobus sendiri dalam Alkitab Perjanjian Baru ditulis sebanyak empat puluh kali. Namun justru karena tidak ada perkenalan yang lebih spesifik dalam surat Yakobus ini, tentang siapa Yakobus yang dimaksudkan, maka kita harus memilih tiga di antara Yakobus yang ada dalam Perjanjian Baru.
1.Yakobus anak Zebedeus. Dia mati shayid, di bunuh oleh Herodes pada ± tahun 42 (KPR 12). Dan surat Yakobus ini diperkirakan ditulis antara tahun 45-49[2].
2.Yakobus anak Alfeus. Yakobus yang ini tidak sering disebutkan dalam Perjanjian Baru, karena ia bukanlah orang yang penting dalam sejarah gerja mula-mula. Sehingga kemungkinan bahwa ia yang menulis surat Yakobus adalah sangat kecil. Sebab jika ia yang menulisnya, maka ia akan lebih diperkenalkan atau memperkenalkan diri lebih jauh dari pada hanya menyebutkan namanya.
3.Yakobus saudara Yesus. Dia baru menjadi percaya setelah Yesus bangkit dari antara orang mati (I Korintus 15:7). Dia menjadi pemimpin Yerusalem, yaitu golongan Yahudi. Dipandang szebagai sokoguru oleh Paulus (Galatia 2:9). Berperan penting dalam sidangYerusalem (KPR 15:13; Galatia 2:9).
Bila Yakobus sungguh pengarangnya, maka ini tentulah Yakobus anak Alfeus (mat 10:3), atau lebih mungkin Yakobus, saudara Tuhan Yesus (Gal 1:19; juga lih. Mrk 6:3)[3].
Sejak awal mula hingga dewasa ini kesamaan itu diperdebatkan, meskipun dewasa ini kebanyakan ahli membedakan tokoh-tokoh itu. Apa yang dikatakan paulus dalam Galatia 1:19 diartikan dengan cara yang berbeda-beda juga. Tetapi masalah yang sesungguhnya terletak di tempat lain dan ditingkat lebih mendalam. Adakah Surat Yakobus sungguh karangan “Yakobus yaitu saudara Tuhan”? Ada berbagai keberatan yang dapat dikemukakan terhadap pendapat itu. Jika Surat Yakobus benar- benar dikarang oleh tokoh yang penting itu, bagaimana gerangan mungkin bahwa surat itu begitu lambat diterima oleh Gereja sebagai Kitab Suci dan, sebaliknya, begitu lama diragukan dan bahkan ditolak?
Selebihnya, Surat Yakobus langsung ditulis ke dalam bahasa Yunani yang bagus dan lancar, dengan perbendaharaan kata dan seni berpidato yang mengherankan, seandainya Surat Yakobus ditulis oleh seorang yang berasal dari Galilea. Sudah barang tentu mungkin Yakobus menggunakan seorang murid yang berkebudayaan Yunani. Tetapi hipotesa dan dugaan itu sukar dibuktikan. Akhirnya dan khususnya: Surat Yakobus sangat serupa dengan beberapa karangan yang disusun pada akhir abad pertama atau pada awal abad kedua, teristimewanya dengan surat Klemens dari Roma dan buku yang berjudul “Pastor Harmae”[4].Kerap kali dikatakan bahwa karangan-karangan itu menggunakan Surat Yakobus. Tetapi dewasa ini semakin banyak sekali ahli berpendapat, bahwa kesamaan antara Surat Yakobus dan karangan- karangan tersebut yang ternyata ada, disebabkan oleh sumber-sumber bersama yang dipakai. Kecuali itu Surat Yakobus dan karangan-karangan lain itu mesti menghadapi masalah-masalah yang sejenis.
Banyak ahli berkeyakinan bahwa Surat Yakobus ditulis pada akhir abad pertama atau bahkan pada awal abad kedua. Memang ajaran Surat Yakobus tentang Kristus memberi kesan ketuaan. Tetapi hal itu tidak membuktikan bahwa Surat Yakobus ditulis pada awal mula agama Kristen. Sebab mungkin juga bahwa Surat Yakobus berasal dari kalangan orang-orang Kristen keturunan Yahudi yang menjadi penerus pikiran-pikiran Yakobus, sedangkan menutup dirinya bagi perkembangan lebih lanjut dalam teologi Kristen semula.
Adapun Yakobus saudara Yesus adalah orang yang terlibat dalam kepemimpinan gereja mula-mula, yakni di Yerusalem, menggantikan Petrus yang pergi meninggalkan kota itu. Paulus sendiri menyebutnya sebagai ”Sokoguru jemaat” (Galatia 2:9). Menurut Galatia 2:12, Paulus menjelaskan bahwa Yakobus adalah seorang pemimpin golongan Yahudi. Dengan demikian kita akan lebih memahami akan isi surat Yakobus yang berlatarbelakangkan Yahudi.
Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa Yakobus yang dimaksudkan adalah Yakobus saudara Yesus (matius 13:55; Markus 6:3; Galatia 1:19) yang ditujukan kepada saudara-saudara ke-duabelas suku yang ada di perantauan.
Waktu Penulisan surat Yakobus
Surat Yakobus ditulis pada masa awal kekristenan. Akan tetapi tidak begitu jelas kapan tanggalnya. Jika yang mengarang atau menulis surat ini adalah Yakobus saudara Yesus, maka tanggal harus sebelum tahun 62, karena pada tahun itu Yakobus mati. Ada beberapa hal yang dapat memberiotahukan kita kapan surat ini ditulis. Antaralain: masalah yang begitu dihebohkan pada masa itu, yaitu syarat-syarat terhadap orang kafir yang masuk Kristen, tidak disinggung sama sekali dalam surat ini. Itu berarti ada kemungkinan bahwa surat ini ditulis pada waktu jumlah orang Kristen yang berlatar belakang kafir belum terlal banyak. Yaitu sebelum adanya siding Yerusalem pada tahun 49. dan kalau itu benar, maka surat ini kemungkinan ditulis pada tahun antara tahun 45 dan 49.

Latar belakang penulisan surat Yakobus
Sebagai pemimpin jemaat di Yerusalem, Yakobus merasa bertanggung jawab untuk memberikan nasihat-nasihat kepada orang-orang Kristen yang berlatar belakang Yahudi. Dia mengetahui keadaan dan mau mengarahkan mereka dalam pergumulan yang mereka alami.
Problem utama dari penerima surat Yakobus adalah ketidakharmonisan antara sebab dan akibat dari kehidupan rohaninya. Mereka yang mengaku telah diselamatkan ternyata tidak menjadikan Tuhan sebagai Raja dalam hatinya, sehingga perbuatannya bobrok. Mereka yang mengaku beriman kepada Kristus ternyata tidak menunjukkan perbuatan (akibat) konkret yang sesuai dengan imannya. Mereka yang berdoa ternyata bertengkar satu dengan yang lain. Mereka yang beribadah kepada Tuhan ternyata tidak menunjukkan pengaruh ibadah dalam kehidupan sehari-hari.
Setelah menganalisa akibat yang muncul dalam kehidupan orang Kristen, penulis surat Yakobus menyimpulkan bahwa persoalannya bermuara kepada masalah relasi dengan Tuhan. Mengapa mereka bertengkar satu dengan yang lain? Mereka bertengkar karena kasih Allah dalam hati mereka kurang. Mengapa mereka mengikuti peraturan duniawi? Mereka bertindak seperti itu karena tidak taat kepada Kristus. Mengapa mereka merencanakan hidup menurut perspektif diri sendiri? Karena mereka sombong dan tidak mengakui pemeliharaan Tuhan. Mengapa mereka berlaku kasar dan memandang muka terhadap saudara seiman? Mereka berbuat demikian karena mereka lebih memperhatikan hal duniawi. Bukankah inti persoalan eksternal mereka berpusat pada persoalan internal?
Yakobus menasihati orang Kristen supaya hidup harmonis antara internal (anugrah Tuhan yang diterima) dan eksternal (kenyataan hidup sehari-hari). Surat Yakobus ini searah dengan nasihat Rasul Paulus agar orang Kristen hidup sesuai dengan panggilannya (Filipi 1:27), agar Kristus di dalam hati orang Kristen nyata bagi semua orang (2 Korintus 13:5, Kolose 3: 15-16), dan agar orang Kristen menjadi surat Kristus yang tertulis yang bisa dibaca oleh setiap orang (2 Korintus 3: 1-3). Tuhan memanggil gereja-Nya untuk menguji diri apakah kehidupan eksternal telah sesuai dengan realitas internal? Jikalau tidak, maka kita perlu bertobat dan diperbarui oleh Tuhan. Surat Yakobus tetap berbicara kepada orang Kristen pada zaman ini untuk evaluasi diri.
Tujuan Penulisan surat Yakobus
Surat Yakobus tidak memberikan informasi yang spesifik tentang tujuan atau alamat suratnya tersebut. Dalam Yakobus 1:1, penulis hanya memberikan petunjuk bahwa suratnya ini ditujukan kepada ”keduabelas suku di perantauan”.Agaknya yang dimaksudkan adalah bangsa Yahudi yang berada di luar Palestina.
Istilah ”Kedua belas suku di perantauan”, dapat mengungkapkan untuk orang-orang Yahudi yang berada diluar tanah perjanjian, dan di sini melambangkan segenap umat Allah[5]. Kemungkinan juga, bahwa kedua belas suku yang dimaksudkan adalah orang-orang Yahudi yang berada di luar Palestina yang kepergian mereka karena penawanan, atau juga yang karena kemauan mereka sendiri untuk merantau.
Isi Surat Yakobus
Surat Yakobus banyak berisi mengenai hal-hal praktis dalam kehidupan sehari-hari. Surat Yakobus tampaknya bertolakbelakang atau bertentangan dengan surat yang ditulis oleh Paulus. Berbedaan itu tampak pada penekanan yang diberikan dal;am masing-masing surat. Paulus menekankan hidup oleh karena iman. Sedangkan Yakobus, seolah ia menekankan perbuatan baik sebagai cara untuk memperoleh kehidupan.
Akan tetapi, pada dasarnya perbedaan itu adalah disebabkan karena perbedaan konteks tujuan surat itu ditulis. Yakobus menekankan perbuatan baik karena orang-orang yang ditujunya ada dalam situiasi yang tidak mengalami perkembangan atau pertumbuhan dalam imannya. Mereka menyatakan beriman, akan tetapi tidak menyatakan atau mewujudkan iman itu. Sehingga iman meeka tidak berbuah. Dan sebagai pemimpin jemaat di Yerusalem, Yakobus merasa bertanggung jawab untuk memberikan nasihat-nasihat kepada orang-orang Kristen yang berlatar belakang Yahudi. Dia mengetahui keadaan dan mau mengarahkan mereka dalam pergumulan yang mereka alami. Yakobus memberikan pengarahan bahwa iman harus dinyatakan dengan perbuatan. Seperti yang ia tuliskan dalam suratnya.
Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati. (Yakobus 2:26 )
Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. (Yakobus 2:17 )
Kedua kutipan ayat di atas memberikan penekanan yang disampaiklan oleh Yakobus untuk orang-orang perantauan bahwa iman tanpa adanya perwujudan melalui tindakan atau pertuatan pada hakikatnya adalah mati. Jadi sia-sia orang yang mengaku beriman tetapi dalam kehidupannya tidak menampakkan bahwa mereka beriman. Semuanya itu mati.
Ola Tuluan, dalam bukunya yang berjudul Introduksi Perjanjian Baru, membagi surat Yakobus ini ke dalam empat bagian atau pokok besar[7], yakni:
1.Nasihat-nasihat dalam menghadapi pencobaan (1:2-18).
2.Nasihat-nasihat untuk menjadi pelaku Firman Tuhan (1:19-25).
3.Bukti-bukti iman yang benar (1:26-5:6).
4.Anjuran dan dorongan (5:7-20).
Dari pembagian Surat Yakobus yang diberikan oleh Ola dalam bukunya tersebut, kita dapat melihat bahwa isi dari Surat Yakobus adalah banyak mengenai bagaimana cara hidup berjemaat secara keseharian. Berbagai nasihat dan teguran ditulis dalam surat ini. Ini sesuai dengan pelayanan yang diberikan kepada Yakobus, yaitu sebagai pemimpin ataudapat juga disebut sebagai gembala jemaat yang mempedulikan jemaatnya.
Yakobus bukan hanya memberikan suatu pengajaran teori saja. Dalam arti, bukan hanya untuk dipahami atau dimengerti saja. Akan tetapi Yakobus menuntut setiap pembaca suratnya agar melakukan setiap nedsihat-nasihat yang ada. Terlebih lagi terhadap Firman Allah. Ia menulis:
Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin.Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya (Yakobus 1:22-24).
Dari ayat tersebut dapat dikatakan bahwa Yakobus menuntut setiap pembacanya bukan hanya sebagai pembaca saja, melainkan juga sebagai pelaku dari apa yang dibacanya. Yang dalam hal ini adalah Firman Tuhan.
Yakobus menegaskan kepada setiap pembacanya mengenai hubungan para pembaca dengan Firman Tuhan. Tidak cukup para pembaca hanya bersikap ataupun berlaku sebagai pendengar saja, melainkan juga harus menjadi pelaku Firman itu. Dalam arti: setiap orang percaya (orang Kristen) dilahirkan kembali oleh Firman Allah. Dan hidup yang baru itu bergantung dari setiap Firman Allah. Tanpa Firaman Allah, maka hidup itu akan mati. Dengan demikian setiap orang percaya dapat mengerti betapa pentingnya Firman Allah yang berkuasa itu tertanam dalam hati orang-orang Kristen.
Dalam suratnya, Yakobus memakai ilustrasi yang sangat abik, ia mamakai ilustrasi tentang seseorang yang memandang mukanya di cermin. Yang hanya sepintas saja mengerti atau tahu bagaimana mukanya, tetapi seketika itu juga ia lupa akan mukanya sesaat setalah meninggalkan cermin. Ia tidak dapat memahami dengan sungguh-sungguh bagaimana mukanya itu. Demikian juga halnya dengan Firman Tuhan dalam kehidupannya, orang-oeang yang seperti ini adalah tipe orang yang hanya mendengar Firman Tuhan tanpa meresapinya dan tidak melakukannya. Hanya orang yang meneliti Firman Tuhan yang tidak akan melupakan Firman itu dan yang akan melakukannya dalam kehidupannya.
Tujuan Penafsiran Surat Yakobus
Pertama, biar tidak terjadi kesalapamahan dalam penafsiran dan maksud penulis surat.
Kedua, untuk memenuhi tuntutan tugas akhir dari mata kuliah Tafsir Perjanjian Baru pada semester VII dari dosen mata kuliah tafsir.

Pembatasan Tafsiran
Penafsiran mengenai tafsir Perjanjian baru begitu sangat luas dan banyak sekali oleh sebab Itu penulis sebagai penafsir hanya menafsir pada surat Yakobus satu kitab.

BAB II
PENAFSIRAN
Teks surat Yakobus
1:1 Salam dari Yakobus, hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus, kepada kedua belas suku di perantauan.
1:2 Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,
1:3 sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.
1:4 Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun.
1:5 Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, -- yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit --, maka hal itu akan diberikan kepadanya.
1:6 Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin.
1:7 Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan.
1:8 Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.
1:9 Baiklah saudara yang berada dalam keadaan yang rendah bermegah karena kedudukannya yang tinggi,
1:10 dan orang kaya karena kedudukannya yang rendah sebab ia akan lenyap seperti bunga rumput.
1:11 Karena matahari terbit dengan panasnya yang terik dan melayukan rumput itu, sehingga gugurlah bunganya dan hilanglah semaraknya. Demikian jugalah halnya dengan orang kaya; di tengah-tengah segala usahanya ia akan lenyap.
1:12 Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.
1:13 Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: "Pencobaan ini datang dari Allah!" Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun.
1:14 Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.
1:15 Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.
1:16 Saudara-saudara yang kukasihi, janganlah sesat!
1:17 Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.
1:18 Atas kehendak-Nya sendiri Ia telah menjadikan kita oleh firman kebenaran, supaya kita pada tingkat yang tertentu menjadi anak sulung di antara semua ciptaan-Nya.
1:19 Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah;
1:20 sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.
1:21 Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
1:22 Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.
1:23 Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin.
1:24 Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya.
1:25 Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.
1:26 Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.
1:27 Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.

2:1 Saudara-saudaraku, sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia, janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka.
2:2 Sebab, jika ada seorang masuk ke dalam kumpulanmu dengan memakai cincin emas dan pakaian indah dan datang juga seorang miskin ke situ dengan memakai pakaian buruk,
2:3 dan kamu menghormati orang yang berpakaian indah itu dan berkata kepadanya: "Silakan tuan duduk di tempat yang baik ini!", sedang kepada orang yang miskin itu kamu berkata: "Berdirilah di sana!" atau: "Duduklah di lantai ini dekat tumpuan kakiku!",
2:4 bukankah kamu telah membuat pembedaan di dalam hatimu dan bertindak sebagai hakim dengan pikiran yang jahat?
2:5 Dengarkanlah, hai saudara-saudara yang kukasihi! Bukankah Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan yang telah dijanjikan-Nya kepada barangsiapa yang mengasihi Dia?
2:6 Tetapi kamu telah menghinakan orang-orang miskin. Bukankah justru orang-orang kaya yang menindas kamu dan yang menyeret kamu ke pengadilan?
2:7 Bukankah mereka yang menghujat Nama yang mulia, yang oleh-Nya kamu menjadi milik Allah?
2:8 Akan tetapi, jikalau kamu menjalankan hukum utama yang tertulis dalam Kitab Suci: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri", kamu berbuat baik.
2:9 Tetapi, jikalau kamu memandang muka, kamu berbuat dosa, dan oleh hukum itu menjadi nyata, bahwa kamu melakukan pelanggaran.
2:10 Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya.
2:11 Sebab Ia yang mengatakan: "Jangan berzinah", Ia mengatakan juga: "Jangan membunuh". Jadi jika kamu tidak berzinah tetapi membunuh, maka kamu menjadi pelanggar hukum juga.
2:12 Berkatalah dan berlakulah seperti orang-orang yang akan dihakimi oleh hukum yang memerdekakan orang.
2:13 Sebab penghakiman yang tak berbelas kasihan akan berlaku atas orang yang tidak berbelas kasihan. Tetapi belas kasihan akan menang atas penghakiman.
2:14 Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?
2:15 Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari,
2:16 dan seorang dari antara kamu berkata: "Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!", tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu?
2:17 Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.
2:18 Tetapi mungkin ada orang berkata: "Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan", aku akan menjawab dia: "Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku."
2:19 Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.
2:20 Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong?
2:21 Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah?
2:22 Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.
2:23 Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: "Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran." Karena itu Abraham disebut: "Sahabat Allah."
2:24 Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.
2:25 Dan bukankah demikian juga Rahab, pelacur itu, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia menyembunyikan orang-orang yang disuruh itu di dalam rumahnya, lalu menolong mereka lolos melalui jalan yang lain?
2:26 Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.
3:1 Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat.
3:2 Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya.
3:3 Kita mengenakan kekang pada mulut kuda, sehingga ia menuruti kehendak kita, dengan jalan demikian kita dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya.
3:4 Dan lihat saja kapal-kapal, walaupun amat besar dan digerakkan oleh angin keras, namun dapat dikendalikan oleh kemudi yang amat kecil menurut kehendak jurumudi.
3:5 Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapa pun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar.
3:6 Lidah pun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka.
3:7 Semua jenis binatang liar, burung-burung, serta binatang-binatang menjalar dan binatang-binatang laut dapat dijinakkan dan telah dijinakkan oleh sifat manusia,
3:8 tetapi tidak seorang pun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan.
3:9 Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah,
3:10 dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi.
3:11 Adakah sumber memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama?
3:12 Saudara-saudaraku, adakah pohon ara dapat menghasilkan buah zaitun dan adakah pokok anggur dapat menghasilkan buah ara? Demikian juga mata air asin tidak dapat mengeluarkan air tawar.
3:13 Siapakah di antara kamu yang bijak dan berbudi? Baiklah ia dengan cara hidup yang baik menyatakan perbuatannya oleh hikmat yang lahir dari kelemahlembutan.
3:14 Jika kamu menaruh perasaan iri hati dan kamu mementingkan diri sendiri, janganlah kamu memegahkan diri dan janganlah berdusta melawan kebenaran!
3:15 Itu bukanlah hikmat yang datang dari atas, tetapi dari dunia, dari nafsu manusia, dari setan-setan.
3:16 Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.
3:17 Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik.
3:18 Dan buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai.
4:1 Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu?
4:2 Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa.
4:3 Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.
4:4 Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.
4:5 Janganlah kamu menyangka, bahwa Kitab Suci tanpa alasan berkata: "Roh yang ditempatkan Allah di dalam diri kita, diingini-Nya dengan cemburu!"
4:6 Tetapi kasih karunia, yang dianugerahkan-Nya kepada kita, lebih besar dari pada itu. Karena itu Ia katakan: "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati."
4:7 Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!
4:8 Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu. Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa! dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati!
4:9 Sadarilah kemalanganmu, berdukacita dan merataplah; hendaklah tertawamu kamu ganti dengan ratap dan sukacitamu dengan dukacita.
4:10 Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu.
4:11 Saudara-saudaraku, janganlah kamu saling memfitnah! Barangsiapa memfitnah saudaranya atau menghakiminya, ia mencela hukum dan menghakiminya; dan jika engkau menghakimi hukum, maka engkau bukanlah penurut hukum, tetapi hakimnya.
4:12 Hanya ada satu Pembuat hukum dan Hakim, yaitu Dia yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan. Tetapi siapakah engkau, sehingga engkau mau menghakimi sesamamu manusia?
4:13 Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: "Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung",
4:14 sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.
4:15 Sebenarnya kamu harus berkata: "Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu."
4:16 Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah.
4:17 Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.
5:1 Jadi sekarang hai kamu orang-orang kaya, menangislah dan merataplah atas sengsara yang akan menimpa kamu!
5:2 Kekayaanmu sudah busuk, dan pakaianmu telah dimakan ngengat!
5:3 Emas dan perakmu sudah berkarat, dan karatnya akan menjadi kesaksian terhadap kamu dan akan memakan dagingmu seperti api. Kamu telah mengumpulkan harta pada hari-hari yang sedang berakhir.
5:4 Sesungguhnya telah terdengar teriakan besar, karena upah yang kamu tahan dari buruh yang telah menuai hasil ladangmu, dan telah sampai ke telinga Tuhan semesta alam keluhan mereka yang menyabit panenmu.
5:5 Dalam kemewahan kamu telah hidup dan berfoya-foya di bumi, kamu telah memuaskan hatimu sama seperti pada hari penyembelihan.
5:6 Kamu telah menghukum, bahkan membunuh orang yang benar dan ia tidak dapat melawan kamu.
5:7 Karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan! Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi.
5:8 Kamu juga harus bersabar dan harus meneguhkan hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah dekat!
5:9 Saudara-saudara, janganlah kamu bersungut-sungut dan saling mempersalahkan, supaya kamu jangan dihukum. Sesungguhnya Hakim telah berdiri di ambang pintu.
5:10 Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan.
5:11 Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan.
5:12 Tetapi yang terutama, saudara-saudara, janganlah kamu bersumpah demi sorga maupun demi bumi atau demi sesuatu yang lain. Jika ya, hendaklah kamu katakan ya, jika tidak hendaklah kamu katakan tidak, supaya kamu jangan kena hukuman.
5:13 Kalau ada seorang di antara kamu yang menderita, baiklah ia berdoa! Kalau ada seorang yang bergembira baiklah ia menyanyi!
5:14 Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan.
5:15 Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni.
5:16 Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.
5:17 Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujan pun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan.
5:18 Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumi pun mengeluarkan buahnya.
5:19 Saudara-saudaraku, jika ada di antara kamu yang menyimpang dari kebenaran dan ada seorang yang membuat dia berbalik,
5:20 ketahuilah, bahwa barangsiapa membuat orang berdosa berbalik dari jalannya yang sesat, ia akan menyelamatkan jiwa orang itu dari maut dan menutupi banyak dosa.

Garis Besar Surat Yakobus
a) Pendahuluan 1:1
b) Iman dan kebijaksanaan 1:2-8
c) Kemiskinan dan kekayaan 1:9-11
d) Cobaan dan godaan 1:12-18
e) Mendengar dan berbuat 1:19-27
f) Peringatan supaya tidak membeda-bedakan orang 2:1-13
g) Iman dan perbuatan 2:14-26
h) Orang Kristen dan ucapan-ucapan mulutnya 3:1-18
i) Orang Kristen dan dunia 4:1--5:6
j) Berbagai-bagai petunjuk 5:7-20

Pendahuluan 1:1
Pembukaan, dari surat Yakobus ini sudah menegaskan bahwa surat ini ditulis bukan untuk satu jemaat tertentu, melainkan 'kepada kedua belas suku di perantauan.
Siapakah 'kedua belas suku' yang dia maksudkan itu? Menurut makna dari bahasa sumbernya, kalimat itu
seharusnya diartikan sebagai 'mereka semua yang termasuk dalam kedua belas suku yang tersebar di
mana-mana'. Yakobus mengirim surat ini kepada kedua belas suku itu.
Siapakah yang dimaksud dengan 'kedua belas suku' itu? Banyak orang yang yakin bahwa kedua belas suku
itu menunjuk kepada orang-orang percaya yang termasuk bangsa Yahudi, bukan bangsa-bangsa asing.
Akibatnya, beberapa orang menyimpulkan bahwa surat ini tidak ditujukan kepada kita, orang percaya yang
bukan Yahudi. Saya pikir pemahaman seperti itu agak terlalu sempit. Karena ini adalah Firman Allah,
tentunya ditujukan kepada semua umat Allah, artinya, kepada semua murid yang benar-benar mengikuti
Yesus, entah dia orang Yahudi atau bukan - mereka itulah orang-orang Israel yang sejati.
Yakobus menggambarkan orang-orang percaya di zaman awal gereja sebagai kumpulan orang yang 'tersebar di berbagai tempat'. Dengan memakai cara itu di dalam menggambarkan orang-orang percaya pada masa awal, Yakobus membantu kita untuk melihat karakteristik khusus jemaat mula-mula. Kata 'tersebar' tidak sekadar menonjolkan kenyataan bahwa mereka berada di berbagai tempat, melainkan juga mengacu pada penyebaran mereka oleh Allah ke berbagai tempat demi penyebaran keyakinan itu, yaitu bagi kepentingan Yesus dan Injil-Nya. Ini adalah konsep yang sulit untuk kita pahami di zaman sekarang ini.
kata 'tersebar' tidak sekadar mengacu pada orang-orang percaya yang dicerai-beraikan ke berbagai negeri di dunia ini. Yang lebih penting lagi, kata ini mengacu kepada orang-orang percaya yang tersebar oleh karena penganiayaan agama. Hal itu tercatat di dalam Kisah 8:1, 'Pada waktu itu mulailah penganiayaan yang hebat terhadap jemaat di Yerusalem. Mereka semua, kecuali rasul-rasul, tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria.' Perhatikan kata 'tersebar (scattered), kata ini sama artinya dengan dispersed, karena adanya penganiayaan, para murid saat itu tersebar ke Yudea dan Samaria. Apakah ini suatu kemalangan? Dari sisi permukaannya, sepertinya para murid tercerai-berai akibat adanya penganiayaan. Jika Anda perhatikan Kisah 8:1 lewat mata iman, Anda akan melihat bahwa sebenarnya Allah-lah yang menyebarkan mereka ke berbagai negeri. Dan tujuan di balik ini adalah Dia ingin agar mereka memberitakan Injil sampai ke ujung bumi. Kisah 8:4 memberitahu kita tentang sikap hati para murid yang tersebar ke berbagai tempat, yang ternyata bukanlah sikap hati yang pasif. Mereka mengerti bahwa pergi ke berbagai negeri untuk memberitakan Injil adalah kehendak Allah. Sikap hati para murid itu aktif. Mereka ingat tugas besar yang telah diberikan oleh Yesus kepada mereka. Mereka mengerti akan hati Allah di balik penganiayaan itu. Alasan mengapa mereka begitu aktif dan sangat lincah bergerak adalah karena mereka tidak pernah memandang dunia ini sebagai tempat menetap bagi mereka. Dan justru karena mereka memiliki sikap hati yang seperti ini, mereka dapat dengan mudah dipimpin oleh Roh Kudus untuk memberitakan Injil ke berbagai tempat. Ini juga alasan mengapa Injil begitu cepat tersebar di zaman gereja mula-mula.
Iman dan kebijaksanaan 1:2-8
Ayat 2-4, dia menyuruh kita bersukacita di dalam berbagai ujian itu! Mentalitas macam apakah ini? Apakah itu berarti bahwa dia ingin agar kita mencari-cari penderitaan? Mengapa kita harus bersukacita di dalam berbagai-bagai ujian? Bagaimana kita dapat bersukacita saat menghadapi berbagai macam perkara yang tidak kita senangi? Mungkin kita perlu membaca sedikit lebih jauh lagi untuk mencari petunjuk tentang hakekat dari ujian-ujian yang disebutkan di sini. Bagaimana pun juga, kita tahu persis bahwa ujian yang dibicarakan oleh Yakobus ini jelas bukan hal- hal yang menyenangkan. Sebelum kita masuk dalam pengertian mengapa kita harus bersukacita di dalam berbagai ujian, pertama- tama kita harus mengerti ujian macam apa yang dibicarakan oleh rasul Yakobus di sini. Jika Anda baca Yak. 1:2-8, Anda akan segera melihat bahwa Yakobus sedang berbicara tentang ujian iman. Kita bisa melihat poin ini di dalam ayat 3. Saudara, tahukah Anda bahwa iman Anda kepada Allah harus melalui pengujian? Banyak orang yang berpikir bahwa percaya kepada Yesus itu adalah hal yang sangat mudah. Banyak orang berpikir bahwa dengan menyatakan diri mereka 'percaya' kepada Yesus maka mereka sudah menjadi Kristen. Selanjutnya segenap kehidupan mereka akan aman dan terjamin, segala sesuatu akan berjalan lancar, dan mereka bisa menikmati kehidupan yang stabil di dunia ini, tinggal menunggu saat pergi ke surga saja. Suatu hari, saat mereka menghadapi kesulitan dan ujian, mereka akan sangat terkejut, mereka akan mulai mengeluh, dan beberapa orang bahkan akan meninggalkan iman mereka. Mereka tidak tahu bahwa orang- orang Kristen harus menghadapi banyak ujian. Anda bisa katakan bahwa ujian adalah bagian dari kehidupan Kristen. Ujian juga merupakan satu aspek yang sangat penting dari kehidupan Kristen. Di sini, Yakobus ingin mengingatkan kita bahwa iman kita kepada Allah pasti akan diuji. Saat kita menghadapi ujian, bagaimana pun juga, kita tidak boleh lupa bahwa berkat Allah tersembunyi di dalam ujian itu. Inilah tepatnya hal yang disampaikan di dalam ayat 12 - Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah.
Ayat 4 memberitahu kita alasannya. Ujian iman membantu kita untuk menjadi sempurna, utuh, tidak kekurangan sesuatu apapun. Apa maksudnya? Menjadi 'sempurna' bukan berarti menjadi tanpa cela. Bukan berarti bahwa seseorang tidak lagi membuat kesalahan apapun. Kesempurnaan yang disebutkan di sini berkaitan dengan kedewasaan rohani.
Ayat 5-8, Dalam rangka memahami ayat 5-6 dengan benar, kita harus memahami dan menangkap premis (pernyataan yang mendasari) kedua ayat itu. Apakah premis dari ayat 5-6? Dapatkah Anda melihat adanya hubungan di antara ayat 4 dan 5? Ayat 4 berbicara tentang hal 'tidak kekurangan sesuatu apapun' dan ayat 5 berkata, 'apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat'. Harap diperhatikan bahwa kata 'kekurangan' di ayat 5 dan 4 itu sebenarnya memiliki arti yang sama. Bahkan di dalam bahasa Yunaninya, keduanya memakai kata yang sama yang berarti 'tidak mencukupi' atau 'kurang'.
. Jadi, kata 'kekurangan' di dalam ayat 5 jelas merupakan lawan kata dari 'tidak kekurangan' di dalam ayat 4. Jadi, "tidak kekurangan suatu apapun" (ay.4) merupakan suatu antonim (berlawanan makna) kepada "kekurangan' di ayat 5.
Ayat 8, Sering kali, kita meragukan kesetiaan dan realitas Allah. Kita menduga bahwa Dia hanya bermurah hati kepada orang lain, dan tidak kepada kita. Hati yang mendua ini akan membuat kita tidak dapat secara total percaya kepada Allah dan mengabdi serta mengikut Dia sepenuhnya. Setelah memahami makna dari ayat 5-8 secara umum, mari kita beralih ke Yak 1:2-4. Kita perlu pikirkan tentang hubungan antara ayat 2-4 dengan ayat 5-8. Sebelum ini, kita telah melihat bahwa ayat 2-4 berbicara tentang ujian iman. Akan tetapi ayat 5-8 berbicara tentang hal meminta hikmat kepada Allah. Apakah hubungan antara keduanya? Saya harap setiap orang secara perlahan dapat melihat hubungan antara kedua bagian bacaan itu. Secara sederhananya - di satu sisi, rasul Yakobus mendorong kita untuk meminta hikmat rohani kepada Allah, di sisi lain, dia juga mengingatkan kita tentang alat yang dipakai oleh Allah dalam membantu kita memperoleh hidup yang berkelimpahan itu. Yakobus mengingatkan kita di dalam ayat 2-4 bahwa Allah akan menolong pertumbuhan kita melalui ujian iman. Jika kita ingin menerima hikmat dan kualitas kehidupan rohani dari Allah, maka kita harus siap untuk menerima cara Allah di dalam membantu pertumbuhan rohani kita. Kita juga harus siap membayar ongkos yang diperlukan buat pertumbuhan itu. Inilah sebabnya mengapa iman sangat penting. Di dalam proses ini, kita harus bertahan dalam keyakinan kita kepada kebaikan dan ksesetiaan Allah. Kita harus bersandar sepenuhnya kepada Dia, dan dengan teguh mempercayai bahwa semua ujian yang datang kepada kita itu adalah dalam rangka membersihkan hidup kita dan membuat kita menjadi semakin serupa dengan Tuhan. Saat kita menghadapi ujian iman, mungkin kita tidak mengerti atau melihat apa tujuan Allah di balik ujian itu. Akan tetapi, setelah melewati ujian iman itu, hidup kita telah dibawa selangkah lebih maju ke arah kesempurnaan. Selanjutnya, kita akan bisa menggemakan ucapan si pemazmur, 'Dan bagiku, betapa sulitnya pikiran-Mu, ya Allah! Betapa besar jumlahnya! Jika aku mau menghitungnya, itu lebih banyak dari pada pasir. Apabila aku berhenti, masih saja aku bersama-sama Engkau.' (Maz 139:17-18). Di sesi yang akan datang kita akan mempelajari Yak 1:9-12. Kita akan merenungkan mengapa tiba-tiba Yakobus berbicara tentang orang yang miskin dan kaya harta. Apakah kaitan antara bagian bacaan tersebut dengan yang sebelumnya?

Kemiskinan dan kekayaan 1:9-11
1:9-11. Sebenarnya, cara terjemahan versi Terjemahan Baru (LAI) sangat menyesatkan pembaca. Memberi kesan yang salah pada pembaca karena ayat 9-11 itu terpisah dari ayat- ayat sebelum dan sesudahnya. Padahal, ayat 9-10 justru mengikuti alur pemikiran yang sama dengan konteksnya. Bagaimana membuktikannya? Mari kita baca kembali ayat 12. Di sini, rasul Yakobus berbicara tentang hal 'bertahan dalam pencobaan' dan juga 'tahan uji'. Kata 'pencobaan (temptation)' di ayat 12, di dalam bahasa Yunaninya memakai kata yang sama dengan kata 'pencobaan (trials)' di ayat 2. Dan kata 'ujian
Cobaan dan godaan 1:12-18
ayat 12 memakai kata yang sama dengan 'ujian (testing)' di ayat 3. Sekalipun kata 'ujian (testing)' dan kata 'pencobaan (temptation)' adalah kata yang berbeda, mereka memiliki makna yang sama di dalam pandangan rasul Yakobus - tidak ada perbedaan di antara keduanya bagi Yakobus. Kita bisa mencocokkan poin ini ke ayat 2-3. Kedua kata itu digunakan dalam pengertian yang sama. (Saya akan menjelaskan poin ini dengan lebih rinci lagi di dalam pembahasan surat Yakobus yang selanjutnya.) Saya harap melalui analisis ini, Anda bisa melihat bahwa di dalam ayat 12 rasul Yakobus masih berbicara tentang hal yang sama, yaitu bertahan dalam pencobaan dan hal tahan uji. Dia masih membahas topik tentang ujian iman; alur pemikirannya masih belum beralih dari ayat 2. Di dalam ayat 2, Yakobus ingin agar kita bersukacita di dalam berbagai pencobaan. Mengapa kita harus bersukacita di dalam berbagai pencobaan itu? Jawabannya ada di ayat 12. Ujian iman bukan saja membantu kita bertumbuh, ia bahkan membantu mempersiapkan agar kita layak menerima mahkota kehidupan di hari nanti. Di sinilah letak makna penting dari ujian iman. Mari kita beralih ke Wah 2:10. Harap diperhatikan apa yang diucapkan oleh Yesus kepada jemaat: tujuan utama dari ujian iman adalah untuk mempersiapkan kita agar menjadi layak menerima mahkota kehidupan.
Di dalam ayat 13-15 ini, rasul Yakobus masih membahas topik 'ujian iman'. Mengapa saya berkata demikian? Karena kata 'dicobai (tempted)' di dalam ayat 13, di dalam bahasa Yunaninya adalah kata yang sama dengan kata 'pencobaan (trials)' di ayat 2. Makna kata Yunani yang dipakai itu adalah 'test (ujian), trial (pencobaan, aniaya), temptation (pencobaan, godaan)'. Makna asli ketiga kata itu sama sekalipun ketiga kata itu tidak selalu diterjemahkan dengan kata yang sama di dalam Yakobus pasal satu. Harap diperhatikan bahwa makna dasarnya adalah 'menguji'. Ini menunjukkan kepada kita bahwa rasul Yakobus masih membahas topik yang sama bahkan sampai ke ayat 13 - yaitu tentang ujian iman. Mari kita pusatkan perhatian pada ayat 13. Apa yang sedang disampaikan oleh rasul Yakobus di sini? Mengapa dia menyuruh kita untuk bersukacita dalam berbagai pencobaan di dalam ayat 2, akan tetapi dia juga berkata bahwa Allah tidak mencobai siapapun? Apakah hubungan antara ayat 13-15 dengan ayat-ayat sebelumnya? Di alur pemikiran yang manakah ayat 13-15 ini berada? Kita memiliki petunjuk dari kata 'pencobaan (tempt)' ini. Yakobus memandang ujian iman dari sudut positif di dalam ayat 2-12. Di sepanjang alur itu, rasul Yakobus menganggap kita semua bisa bergantung kepada kasih karunia Allah, untuk bertahan dan mengatasi ujian. Namun di dalam kenyataannya, berapa banyak orang Kristen yang menang di dalam ujian iman ini? Banyak orang Kristen yang bukannya mengatasi ujian, tapi malah jatuh ke dalam dosa dan menjadi tidak setia kepada Allah karena pencobaan atau ujian ini. Bagaimana seharusnya kita memandang akibat dari kegagalan bertahan menghadapi ujian iman ini? Banyak orang Kristen yang meremehkan ujian iman ini. Tentu saja, mereka memandang bahwa mampu mengatasi adalah yang terbaik, namun jika gagal, tidak menjadi masalah - kerugiannya hanya sebatas tidak memperoleh hadiah, yaitu mahkota kehidupan. Bagi mereka, mahkota itu sama sekali tidak penting karena, dalam keadaan apapun, mereka sudah pasti akan masuk ke dalam kerajaan surga. Jadi, ujian iman bagi mereka tidak ada konsekuensinya sama sekali. Jika Anda juga memiliki mentalitas semacam ini, maka ayat-ayat di dalam Yak 1:13-15 ditujukan bagi Anda.
Ayat 16-18, Rasul Yakobus berkata, "Saudara-saudara yang kukasihi, janganlah sesat!" Mengapa secara tiba-tiba dia berkata, "Jangan sesat"? Kalimat ini, di dalam bahasa aslinya seharusnya diterjemahkan dengan, "Janganlah tertipu (janganlah menipu dirimu sendiri), saudara-saudara yang kukasihi." Ini bukan menunjuk kepada orang yang kadang kala salah menilai atau keliru menghakimi sesuatu persoalan karena kecerobohan. Tetapi di sini, yang dimaksudkan adalah permasalahan yang muncul di dalam kehidupan Kristen yang menyebabkan hatinya menjauh dari Allah dan hidup dalam keadaan menipu diri sendiri. Mengapa saya berkata seperti itu? Karena ayat-ayat sebelumnya, yaitu ayat 14-15, berbicara tentang pencobaan dari keinginan. Keinginan kita akan menipu diri kita sampai kita menjauh dari jalan Allah dan membuat kita jatuh dalam dosa. Jika kita gagal bertobat di dalam keadaan itu, maka kita akan berakhir di dalam maut! Inilah nasehat dan keprihatinan rasul Yakobus pada jemaat. Karena keprihatinan itu, dia berkata, "Janganlah tertipu, saudara-saudara yang kukasihi." Ujian iman sangatlah penting. Sukses atau keberhasilan kita akan menunjukkan tingkat kehidupan rohani kita. Saat kita tidak mampu bertahan menghadapi ujian dan kita berbuat dosa, hal ini menunjukkan bahwa kita telah tertipu oleh keinginan kita. Jika kita tidak bertobat pada saat itu, maka kita akan berakhir di dalam maut! Jadi kita harus berhati-hati dan harus menguji sikap hati dan tingkat kerohanian kita jika kita sering kali tidak memiliki kuasa untuk mengatasi pencobaan itu.
Akan tetapi Yakobus tidak berkata, "Jangan khawatir, saudara-saudaraku yang kukasihi." Yang dia katakan adalah, "Janganlah tertipu/menipu diri sendiri." Paulus mengatakan hal yang sama kepada jemaat di Korintus. Mari kita berpaling kepada 1 Korintus 6:9-10. Paulus mengatakan hal ini kepada orang-orang yang percaya kepada Tuhan, "...orang-orang yang tidak adil (termasuk mereka yang percaya juga) tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah..." Banyak orang Kristen yang berpikir bahwa mereka diselamatkan karena mereka telah percaya sehingga cara hidup mereka menjadi tidak penting lagi. Mereka percaya bahwa mereka masih bisa menjalani hidup ini di dalam keserakahan, percabulan, memfitnah dan mencuri. Inilah persoalan yang sedang dibahas oleh Paulus dan Yakobus: jemaat bisa masuk di dalam tipu daya tanpa pernah mengetahuinya. Apakah Anda menyimpan pemikiran yang sama di dalam hati Anda? Percaya kepada Tuhan, berbuat kejahatan semaunya, dan Anda tetap masuk ke dalam surga? Allah menguji iman kita melalui berbagai cara dan sarana.
Mendengar dan berbuat 1:19-27
Ayat 19, rasul Yakobus mengajar kita untuk cepat mendengar. Kata 'mendengar' ini tentu saja tidak berkaitan dengan hal memakai telinga kita untuk mendengar, tetapi menerima Firman-Nya dengan hati yang lemah lembut. Sering kali, saat kita mendengar hal yang tidak kita sukai, atau tidak kita setujui, kita akan bergegas membantahnya atau bahkan menjadi marah terhadap orang lain. Kita perlu memeriksa sikap hati kita - mengapa kita tidak mampu untuk cepat mendengar? Apakah karena kita kurang lemah lembut?
Ayat 20 mengingatkan kita untuk tidak menjalankan kebajikan Allah dengan semangat lahiriah saja. Banyak orang yang gemar berdebat tentang prinsip-prinsip Alkitab. Mereka mengira dengan melakukan hal itu mereka sedang giat bekerja bagi Allah. Allah tidak menginginkan semangat lahiriah yang semacam ini. Yang Dia kehendaki adalah hati yang lemah lembut. Mari kita lihat 1 Petrus 3:15 bersama-sama. Jika kita tidak lemah lembut, maka Allah tidak bisa menggenapi kehendak-Nya di dalam hidup kita. Yang bisa dicapai oleh semangat yang bergebu-gebu dari kedagingan kita hanyalah tujuan pribadi kita sendiri. Jadi, kelemahlembutan yang dimaksud oleh Yakobus sebenarnya adalah hati yang dapat diajar - hati yang bisa dibentuk oleh Tuhan. Tanpa kelemahlembutan, Firman Allah tidak akan dapat masuk ke dalam hidup kita, seperti yang terjadi pada tanah jenis yang pertama dalam perumpamaan tentang penabur. Atau, Firman Allah masuk secara dangkal di dalam hati kita, namun tidak bisa mengubah diri kita secara total, seperti yang terjadi pada tanah jenis kedua.
ayat 21, bahwa masih ada beberapa hal lain yang perlu kita kerjakan untuk bisa menerima Firman Allah. Kita harus menyingkirkan segala yang kotor dan kejahatan kita. Itulah hal-hal mendasar yang perlu kita lakukan. Secara sederhananya, kita disuruh bertobat. Sering kali, kita sangat mengharapkan kebaikan Allah dan juga kuasa Firman-Nya. Kita bahkan mencurahkan segenap usaha di dalam mempelajari Alkitab. Namun di saat yang bersamaan, kita tidak membuang kekotoran dan kejahatan kita. Mempelajari Firman Allah dengan sikap hati yang seperti ini tidak akan memberikan perubahan di dalam hidup kita. Malahan, cara ini hanya akan membuat orang jadi cepat bicara, dan cepat marah, karena kepala kita penuh sesak dengan pengetahuan yang membuat kita sombong padahal hidup kita belum mengalami kuasa keselamatan Allah. Paulus mengangkat masalah yang sama di dalam 2 Timotius 3:6-7. Mengapa ada orang yang terus belajar tetapi tak pernah sampai pada pengetahuan tentang kebenaran? Ayat 6 memberitahu kita bahwa hal ini disebabkan oleh karena orang-orang itu dipenuhi oleh dosa dan nafsu. Ibarat cangkir yang telah penuh dengan air kotor, jika cangkir itu tidak mau dikosongkan serta dibersihkan, maka ia tidak akan bisa diisi dengan air bersih. Sekalipun Anda paksa menuangkan air bersih ke dalamnya, rasa air itu akan berubah. Kehidupan Anda tidak bisa diisi secara bersamaan dengan kebaikan dan kejahatan.
ayat 22 ini. Rasul Yakobus menyuruh kita untuk tidak sekadar menjadi pendengar firman, tetapi dia juga tidak berkata bahwa mendengarkan firman itu tidak penting. Pokok masalah yang ingin ditangani oleh rasul Yakobus adalah: banyak orang yang suka mendengarkan khotbah akan tetapi mereka tidak mempraktekkan apa yang telah mereka dengarkan karena begitu cepat mereka melupakannya. Dia menyebut fenomena ini dengan istilah 'menipu diri sendiri'. Orang Kristen semacam ini sebenarnya sedang menipu diri mereka sendiri.
ayat 23-24. Hal pertama yang kita suka lakukan setiap pagi di saat kita bangun tidur, atau sebelum kita melangkah keluar dari rumah, adalah bercermin. Mengapa kita ingin bercermin dulu? Kita berharap, dengan bercermin, untuk bisa melihat apakah penampilan kita masih perlu dirapikan sebelum kita keluar dari rumah - agar kita tidak ditertawai orang karena terlihat aneh. Salah satu manfaat utama dari cermin adalah membantu kita menjaga penampilan tetap baik. Coba pikirkan akibat buruk yang akan timbul jika di dunia ini tidak ada benda.
ayat 25 - meneliti hukum Allah. Orang yang tidak serius menyimak Firman Allah tidak akan dapat mengalami kuasa yang mengubah hidup. Seperti yang dikatakan oleh rasul Yakobus, orang ini seperti orang yang sedang bercermin, dalam sekejap dia sudah lupa bagaimana rupanya. Cermin itu tidak bermanfaat apa-apa bagi dia. Demikian pula, jika hati kita tidak serius pada Firman Tuhan, maka kita tidak akan menyimak dengan teliti dan akibatnya, kita akan segera lupa pada apa yang telah kita dengar. Oleh karena itu, kesigapan dalam menyimak dan meneliti Firman Allah adalah sikap hati yang sangat penting.
Ayat 26-27, Sebelum masuk ke dalam kedua ayat itu, rasul Yakobus terus menerus berbicara tentang hal melakukan firman. Apakah arti melakukan firman itu? Apakah hal yang termasuk dalam melakukan firman itu? Apakah melakukan firman berarti kita bertindak secara harfiah sesuai dengan firman yang ada di dalam Alkitab? Yakobus memberitahu kita bahwa ada dua cara untuk melakukan firman. Mari kita lihat lagi Yak 1:26. Ada dua macam ibadah yang disebutkan di sini: yang satu adalah ibadah yang benar, sedangkan yang satunya lagi adalah apa yang disebut oleh Yakobus sebagai, 'sia-sia' (Yakobus memberitahu kita bahwa dari sudut pandang Tuhan semua perbuatan baik yang hanya di luarnya saja adalah sia-sia). Apakah ibadah yang sia-sia mengacu pada mereka yang mendengarkan namun tidak melakukan firman? Sebagai contoh, ibadah orang-orang Farisi jelas termasuk ke dalam jenis ibadah yang sia-sia. Apakah ini berarti bahwa mereka hanya mendengar tanpa melakukan firman? Jelas tidak. Sebaliknya, mereka sangat giat mentaati hukum Taurat. Karena orang-orang Farisi yang taat kepada hukum Taurat itu dipandang sebagai orang yang ibadahnya sia-sia, maka muncul pertanyaan: Anda mungkin sangat bersemangat mentaati Firman Tuhan, namun bagaimana Anda dapat memastikan bahwa semangat Anda di dalam melakukan firman itu berbeda dengan orang-orang Farisi? Apakah yang dimaksudkan oleh rasul Yakobus saat dia berbicara tentang hal melakukan firman? Tidakkah dia sedang berbicara tentang mempraktekkan Firman Allah? Memang tidak dapat disangkal bahwa mempraktekkan apa yang sudah didengar itu termasuk dalam hal melakukan Firman Allah. Yak 1:27 dan juga Yak 2:15-16 menegaskan hal ini kepada kita. Akan tetapi, rasul Yakobus mengacu pada pokok yang jauh lebih luas daripada ini di saat dia sedang berbicara tentang hal melakukan firman itu.
Jadi, melakukan firman itu termasuk menerima dan mengijinkan firman itu mengubah hati kita. Ini juga hal yang disampaikan oleh ayat 27 - agar kita menjaga supaya kita sendiri tidak dicemarkan oleh dunia: nilai- nilai yang kita pegang tidak dipengaruhi atau dikendalikan oleh nilai-nilai dunia. Sebaliknya, cara hidup kita dikendalikan oleh nilai-nilai Allah. Setelah itu, barulah perilaku, kata-kata dan setiap tindakan kita, juga hubungan dengan orang lain, bisa menuruti kehendak Allah. Barulah setelah itu kita bisa disebut sebagai pendengar dan pelaku firman. Kita harus pahami poin ini dengan jelas untuk bisa mengerti isi pasal 2. Kata 'perbuatan (works)' yang dibicarakan oleh rasul Yakobus ini tidak mengacu pada perkara ketaatan lahiriah terhadap hukum Taurat. Tindakan lahiriah tidak selalu merupakan bukti atas ibadah yang sejati.
Peringatan supaya tidak membeda-bedakan orang 2:1-13
Ayat 1-7, Yakobus berbicara tentang pentingnya menjadi pendengar dan pelaku firman mulai ayat 19 dan seterusnya. Penekanan ini melebar sampai ke pasal 2. Rasul Yakobus membahas masalah yang lazim terjadi di tengah jemaat di dalam Yak 2:1-7, yaitu sikap memandang muka. Jika Anda seorang non-Kristen, harap jangan menganggap aneh jika sikap berat sebelah juga ada di tengah gereja.
Mengapa rasul Yakobus sangat serius dalam memandang persoalan ini? Yakobus memberitahu kita di dalam ayat 5 bahwa sudah menjadi sifat Allah untuk memelihara mereka yang miskin dan yang rendah. Saat Yesus datang ke dunia ini, Dia tidak memilih untuk dilahirkan di Yerusalem atau di tengah keluarga bangsawan. Dia malah memilih untuk tinggal di Galilea. Galilea adalah daerah miskin dan tertinggal. Para bangsawan dan bahkan orang-orang yang religius memandang remeh orang-orang Galilea. Akan tetapi Yesus memilih untuk tinggal di tempat ini. Melalui Yesus, Allah ingin menyampaikan pesan bahwa Dia memelihara orang miskin, bahwa Dia tahu derita yang mereka tanggung di dunia ini dan bahwa Dia ingin melegakan mereka dengan keselamatan. Apakah ini berarti bahwa orang miskin itu pasti memiliki kaya iman? Jelas tidak. Memang benar bahwa Allah peduli pada mereka yang miskin dan yang menderita, tapi bukan berarti bahwa mereka tidak perlu bertobat dan meninggalkan kejahatan. Itu sebabnya mengapa di ayat 5 rasul Yakobus menekankan poin bahwa hanya mereka yang mengasihi Allah yang bisa mewarisi Kerajaan Allah. Jadi, baik yang kaya atau yang miskin, semua harus bertobat, meninggalkan kejahatan, dan mengasihi Allah dengan segenap hati mereka supaya mereka dapat mewarisi kerajaan Allah. Kita harus pahami poin ini dengan jelas. Saat rasul Yakobus menyuruh kita untuk tidak memilih kasih, dia tidak berkata bahwa kita harus berpihak pada orang miskin. Penekanannya adalah bahwa kita tidak boleh memandang muka. Kita harus memandang setiap orang berdasarkan kebenaran dan hati Allah (ayat 4). Jadi, ketika Yakobus berkata bahwa Allah telah memilih orang miskin di dalam ayat 5, dia tidak berkata bahwa Allah berpihak kepada orang miskin tanpa syarat. Maksud Yakobus adalah bahwa Allah mengingat penderitaan mereka dan melalui Yesus Kristus, Dia ingin menyatakan keselamatan pertama-tama kepada mereka.
Ayat 6 dan 7 memberitahu kita bahwa orang kaya justru menindas orang Kristen sejati dan menghujat nama Allah. Jika Anda pelajari Alkitab dengan cermat, Anda akan melihat bahwa Alkitab tidak menyebutkan hal yang baik-baik tentang orang kaya. Orang kaya sering kali bersandar pada kekayaan mereka dan harta mereka itu menjadi ilah bagi mereka. Kekayaan dengan mudah bisa membuat orang menjadi sombong dan buta. Seorang yang kaya biasanya secara materi akan menjadi miskin jika dia benar- benar bersandar kepada Allah, karena dia akan memakai uangnya untuk melayani Allah dan menolong mereka yang kekurangan. Saya mengenal seseorang yang memutuskan untuk memakai uangnya untuk melayani Tuhan setelah mempercayai Yesus. Dia membuka pabrik di daerah Selatan dan mempekerjakan banyak orang Kristen. Dia menyatakan ingin memakai semua keuntungannya untuk pekerjaan Tuhan. Akan tetapi, saat bisnisnya berkembang, dia mulai mengeksploitasi pekerjanya, membayar mereka gaji minimal untuk jam kerja yang sangat panjang. Beberapa saudari seiman mulai jatuh sakit akibat kelelahan kerja. Demikianlah, uang sering menimbulkan godaan yang sangat kuat kepada kita, dan membuat kita menjadi tidak sepenuh hati di dalam mengikut Allah. Kita mungkin bahkan melangkah lebih jauh dengan memanfaatkan nama Allah untuk memperalat orang lain demi keuntungan kita. Bukankah ini persis seperti yang dikatakan oleh Yakobus - menindas orang dan menghujat nama Allah? Yesus berkata bahwa lebih mudah bagi seekor unta untuk masuk melalui lubang jarum daripada bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Tuhan bukannya mau mempersulit orang kaya. Sebearnya Dia sedang berkata: orang kaya sering jatuh ke dalam berbagai macam dosa akibat kekayaan mereka, dan menjadi musuh Allah. Jadi Anda lihat, jika orang kaya yang menjadi musuh Allah itu kita idolakan, bukankah kita juga sedang melawan Allah? Bukankah gereja lantas menjadi musuh Allah? Ijinkan saya membuat rangkuman singkat. Di dalam ayat 1, Yakobus mengingatkan kita, orang-orang yang percaya kepada Yesus, untuk tidak bersikap berat sebelah kepada orang lain. Mengapa? Rasul Yakobus tidak peduli apakah kita punya uang atau tidak. Yang dia pedulikan adalah nilai-nilai apa yang kita pegang. Sebagai jemaat Allah, umat Allah, pikiran kita seharusnya mencerminkan pikiran Allah: kita seharusnya peduli pada apa yang dipedulikan oleh Allah; dan kita harus membenci apa yang dibenci oleh Allah. Sebagai orang yang percaya dan melayani Yesus, kita seharusnya mengejar harapan yang di surga. Akan tetapi, mengapa di dalam kenyataannya, kita masih sangat menghargai hal-hal yang duniawi - uang, gengsi dan kedudukan? Mungkin kita tidak mengaku bahwa kita sangat menghargai hal-hal yang duniawi, akan tetapi cara kita memperlakukan orang lain sangat mencerminkan nilai-nilai yang kita pegang. Yakobus sangat peduli tentang perubahan di dalam nilai-nilai yang kita pegang. Jika nilai-nilai duniawi kita tidak berubah, maka kita akan bergerak menentang Allah dan bukannya mencerminkan karakter dan kemuliaan Allah di setiap tindakan kita. Kita akan menjadi musuh-Nya karena kita akan meremehkan hal-hal yang dipedulikan oleh Allah dan menikmati hal-hal yang dibenci oleh Allah.
Rasul Yakobus banyak berbicara mengenai ajaran tentang Hukum di ayat 8-13. Kata "hukum" muncul di setiap ayat dari ayat 8 hingga 12. Dalam 6 ayat yang singkat, kata "hukum" muncul sebanyak 6 kali. Mengapa Yakobus mendiskusikan tentang hal hukum di sini? Bukankah kita sering mendengar dari pengkhotbah Kristen bahwa orang Kristen tidak lagi berada di bahwa hukum? Bahwa kita umat Perjanjian Baru tidak perlu lagi menaati hukum? Apakah ini berarti bahwa orang Kristen dapat melakukan apa saja yang mereka inginkan dan bertindak sesuai dengan dorong hati mereka sendiri? Mengapa rasul Yakobus berbeda pendapat dari kebanyakan pengkhotbah sekarang ini? Mari kita baca ayat 8 sekali lagi. Yakobus mau kita menaati hukum yang utama. Apa itu hukum yang utama? Sebenarnya dalam bahasa aslinya, katanya adalah "royal law" dan kata "royal" dalam bahasa aslinya adalah "apa yang menjadi milik Raja". Ini berarti, hukum dari raja atau satu dekrit yang dikeluarkan oleh raja khusus untuk ditaati oleh umat-nya. Mari kita juga membaca ayat 9. Yakobus berkata di sini bahwa kita sedang melanggar hukum di saat kita memilih kasih. Baca juga ayat 10 dan 11. Di sini, Yakobus sekali lagi berbicara mengenai menaati seluruh hukum. Ia memberitahu kita bahwa jika kita gagal dalam satu hal, berarti kita ternyata telah melanggar seluruh hukum itu. Mari kita membaca ayat 12. Yakobus memberitahu kita bahwa kata-kata dan perbuatan kita harus sesuai dengan hukum. Dengan kata lain, Yakobus sedang memperingati kita tentang pentingnya hukum. Karena kita adalah warga kerajaan surga, kita harus bertindak sesuai dengan hukum Tuhan. Kita telah melanggar seluruh hukum itu hanya dengan mengabaikan bagian kecil dari hukum Tuhan. Yakobus juga mengingatkan kita bahwa Tuhan akan menghakimi kita sesuai dengan hukum kerajaan Surga. Jadi, apakah orang Kristen itu hidup dengan hukum atau tanpa hukum? Apakah kita berada di bawah hukum? Bukankah rasul Paulus memberitahu kita di Galatia dan Roma bahwa semua yang percaya pada Yesus tidak lagi berada di bawah hukum? Jadi, sebenarnya siapa yang benar dan siapa yang salah? Sangat mudah bagi banyak orang Kristen, termasuk pengkhotbah untuk salah menafsirkan firman Tuhan karena mereka tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang ajaran Alkitab. Contohnya, apa arti dari kalimat "tidak lagi di bawah hukum"? Banyak orang Kristen yang memahami kalimat ini sebagai berarti bahwa mereka tidak lagi perlu menaati hukum apa pun dan tidak perlu mempertanggungjawabkan ketidak-taatan itu. Bahkan ada pengkhotbah sampai mengajarkan bahwa orang Kristen akan diselamatkan sekalipun jika mereka melakukan perzinahan atau membunuh karena kita tidak lagi bergantung pada ketaatan pada hukum untuk keselamatan kita. Jika memang ini benar, lalu mengapa kata-kata Yakobus di sini begitu bertolak belakang dari pemahamam itu? Yakobus melanjutkan di ayat 12 untuk berkata bahwa perbuatan kita harus sesuai dengan hukum karena Allah akan menghakimi kita sesuai dengan hukum. Banyak pengkhotbah dan orang Kristen yang sangat bingung dengan kata-kata rasul Yakobus. Beberapa sampai berpikir bahwa pandangan Yakobus tentang keselamatan berbeda dari pandangan Paulus karena Paulus sering menekankan bahwa kita berada di bawah anugerah dan tidak lagi berada di bawah hukum (Rom. 6.14). Lagi pula, Paulus seringkali memberitahu kita di dalam surat-suratnya untuk tidak bergantung pada hukum untuk keselamatan (Gal. 5.4)
kita merupakan umat yang telah menerima belas kasihan dari Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah raja kita dan hukum dari kerajaan-Nya dirangkum di dalam perintah mengasihi sesama manusia seperti diri kita sendiri. Ia juga mempersyaratkan kita untuk menunjukkan belas kasihan kepada orang lain. Ini adalah perintah yang harus ditaati oleh setiap orang yang telah menerima belas kasihan. Kita tidak dapat mencapai standard absolut di dalam mengasihi sesama seperti diri kita sendiri tetapi Yakobus memberitahu kita bahwa Allah adalah penuh belas kasihan dan jika kita belajar untuk menunjukkan belas kasihan kepada orang lain di dalam kehidupan seharian kita, kita pasti akan menerima belas kasihan-Nya di Hari Penghakiman nanti. Memandang muka bertentangan dengan semangat mengasihi sesama seperti diri kita sendiri karena kita sedang tidak menunjukkan belas kasihan Kristus kepada orang lain. Denan memilih kasih dan memandang muka, kita sedang menyangkal identitas kita sebagai warga kerajaan Surga. Hal ini juga membuktikan bahwa kita tidak layak untuk menerima rahmat dari Allah (Mat. 18.21-24). Yesus Sendiri berkata kepada kita, "berbahagialah orang yang berbelas kasihan karena mereka akan beroleh belas kasihan." (Mat. 5.7) Setiap orang Kristen harus menghadapi penghakiman Allah (Yak. 5) dan standard atau asas penghakiman adalah "mengasihi sesama seperti diri kita sendiri". Tidaklah mungkin bagi kita untuk mencapai standard yang mutlak tetapi jika kita sepenuhnya berserah untuk hidup di bawah pemerintahan Allah dan mengejar hal mengasihi sesama seperti diri kita sendiri, kita pasti akan ditunjukkan belas kasihan pada akhirnya. Kita tidak perlu takut akan penghakiman. Malah kita akan merindukannya, karena kita akan menerima belas kasihan Allah. Janganlah tertipu dengan pengajaran palsu bahwa orang Kristen tidak lagi perlu menghadap penghakiman Allah karena hal ini bertentangan dengan ajaran Tuhan (contohnya di perumpamaan domba dan kambing). Hanya mereka yang sesungguhnya mengasihi Allah yang tidak perlu takut pada penghakiman Allah karena mereka melakukan segala sesuatu di dalam kehendak Allah. Mereka merdeka karena mereka hidup sesuai dengan hukum yang memerdekakan mereka.
Iman dan perbuatan 2:14-26
Ayat 14, Rasul Yakobus memberitahu kita dengan sangat jelas di dalam bahwa iman tanpa perbuatan itu tidak ada gunanya. Dia juga melanjutkan dengan menanyakan apakah iman yang semacam ini bisa menyelamatkan kita. Sudah tentu, jawaban atas pertanyaan ini adalah, 'Tidak.' Yang ingin disampaikan oleh Yakobus adalah: iman tanpa disertai perbuatan itu tidak bisa menyelamatkan kita. Mengapa dia berkata seperti itu? Bukankah kita dibenarkan oleh iman? Apakah memiliki iman saja tidak cukup? Apakah kita perlu menambahkan perbuatan untuk bisa diselamatkan? Kata 'perbuatan' yang dia bahas itu adalah perbuatan baik orang-orang yang percaya kepada Yesus. Di sini, dia tidak sedang merujuk menunjuk kepada perbuatan baik sebelum menjadi percaya kepada Tuhan. Dia tidak berkata bahwa kita boleh bergantung pada perbuatan baik demi keselamatan. Yang ingin dia sampaikan adalah: iman seorang yang percaya harus berdampak pada perubahan batin dan perubahan batin ini terwujud pada perilakunya - tindakannya akan menunjukkan bahwa dia adalah orang yang percaya kepada Yesus. Rasul Paulus menyampaikan hal yang sama di dalam Efesus 2:8-10. Kita diselamatkan oleh kasih karunia melalui iman. Yang paling pasti adalah bahwa kita diselamatkan bukan oleh perbuatan baik kita melainkan oleh kasih karunia Allah. Di dalam ayat 10, Paulus ingin agar kita mengerti tujuan dari keselamatan Allah. Seseorang yang benar-benar percaya kepada Yesus adalah ciptaan baru. Allah menganugerahkan kita hidup yang baru dan mengubah kita sehingga kita bisa meninggalkan kejahatan dan melakukan perbuatan- perbuatan baik untuk memuliakan Bapa Surgawi kita. Hal ini nantinya membuat semakin banyak orang yang bisa melihat keselamatan dari Allah dan diselamatkan. Di dalam ayat 10, Paulus menekankan lebih jauh lagi bahwa inilah apa yang telah dipersiapkan oleh Allah dan menjadi panggilan bagi kita untuk mengerjakannya. Inilah tujuan asli dari rencana keselamatan Allah.
di dalam ayat 15-16. Dia berkata, "Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: 'Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!', tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu?" Hal apakah yang ingin disampaikan oleh rasul Yakobus dari contoh ini? Yang ingin dia sampaikan adalah: apakah Anda berani menyatakan bahwa Anda memiliki iman akan tetapi Anda tidak melakukan hal yang Anda tahu harus dikerjakan, saat Anda tahu persis bahwa itulah kehendak Allah namun Anda tidak mengerjakannya? Iman yang Anda banggakan ini sebenarnya adalah iman yang mati di mata Allah! Itu bukanlah iman yang menyelamatkan! Yesus memerintahkan mereka yang percaya kepada-Nya untuk mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Dapatkah kita mengaku memiliki iman padahal kita masih memandang muka, mengistimewakan yang satu serta memperlakukan yang lainnya dengan buruk? Masih bisakah kita mengaku sebagai orang yang percaya kepada Yesus Kristus?
Sebelum kita lanjutkan pembahasan mengenai iman dan perbuatan ini, izinkan saya mengajukan pertanyaan seperti yang disampaikan oleh rasul Yakobus, "Dengan cara apa Anda bisa tahu bahwa Anda adalah orang yang memiliki iman?" Bagaimana Anda bisa tahu bahwa iman Anda adalah iman yang menyelamatkan? Rasul Yakobus memberitahu kita di dalam ayat 19 tentang adanya berbagai macam iman. Setan juga percaya kepada Allah dan kepercayaannya itu malah lebih mendasar daripada Anda karena sampai menimbulkan takut dan gentar di hatinya. Apakah iman kita membawa kita pada keadaan takut akan Allah? Oleh karena itu, janganlah mengira bahwa keyakinan intelektual adalah jenis iman yang menyelamatkan menurut Alkitab. Jika iman kita tidak menghasilkan tindakan nyata dan berdampak pada ketaatan kita pada kehendak Allah, maka iman itu mati. Sebagai contoh, Yesus menyuruh kita untuk bertobat. Sudahkah Anda bertobat? Apakah Anda masih menyimpan dosa di dalam hidup Anda? Apakah Anda masih hidup di dalam dosa? Yesus menyuruh kita untuk tidak mengasihi dunia. Apakah Anda masih juga mengejar hal-hal duniawi? Apakah tujuan hidup Anda dan juga nilai-nilai Anda masih mengikuti arus orang-orang dunia? Yesus memerintahkan kita untuk mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri.
di dalam ayat 17, 20 dan 26. Dalam rentang ayat-ayat yang cukup pendek ini, ungkapan yang sama disampaikan sebanyak tiga kali. Oleh karena itu, kita bisa melihat bahwa ini adalah hal yang ditekankan oleh Yakobus. Kita bisa menyimpulkan dari ungkapan ini bahwa Yakobus sedang mengingatkan kita: tidak semua pengakuan tentang iman itu berisi iman yang menyelamatkan. Iman yang tidak menyelamatkan (di dalam ayat 14) sama dengan iman yang mati di dalam pengertian rasul Yakobus.
Di ayat 19, dia memberi contoh tentang Iblis yang percaya kepada Allah sampai-sampai gemetar ketakutan setiap kali berpikir tentang Allah. Ada berapa banyak orang Kristen yang mampu mencapai tingkatan kepercayaan yang dapat bersaing dengan Iblis ini? .
di dalam ayat 22, rasul Yakobus memberitahu kita bahwa iman bekerja sama dengan perbuatan dan iman itu disempurnakan oleh perbuatan baik. Apakah arti dari 'bekerja sama' itu? Kata di dalam bahasa Yunani memiliki makna 'rekan sekerja'. Di sini, rasul Yakobus membawa kita pada pemahaman yang lebih mendalam mengenai hubungan antara iman dengan perbuatan baik. Saya akan memberikan satu ilustrasi untuk membantu Anda memahami hubungan antara iman dengan perbuatan. Orang keturuan Tionghoa, terbiasa makan dengan menggunakan sumpit. Anda tentu tidak akan memberi saya sebatang saja karena sumpit itu selalu berpasangan. Anda tidak akan bisa makan hanya dengan sebatang sumpit saja. Jadi, setiap kali kita membayangkan sumpit, maka yang kita maksudkan adalah sepasang sumpit. Iman dan perbuatan itu ibarat sepasang sumpit. Ibarat dua saudara kandung. Tanpa salah satunya, maka keduanya menjadi tidak berguna.
di dalam ayat 21-23. Di sini, Yakobus mengambil Abraham sebagai contoh. Abraham adalah bapa orang beriman dan menjadi perlambang utama dari pembenaran oleh iman. Dengan cara apakah Abraham dibenarkan? Ayat 21 memberitahu kita bahwa Abraham dibenarkan oleh perbuatannya. Perbuatan macam apakah yang dia lakukan? Apakah dia mengerjakan perbuatan baik kemana pun dia pergi dan memegahkan hal tersebut di hadapan Allah? Tentu saja tidak. Perbuatan yang dimaksudkan di sini mengacu pada ketaatannya dan kepercayaannya yang utuh kepada Allah. Dia taat dan percaya kepada Allah sampai ke tingkat bersedia mengorbankan anaknya di atas mezbah. Setelah Abraham melaksanakan semua itu, Allah mendapati bahwa iman Abraham itu memuaskan dan menegaskan lagi berkat-Nya kepada Abraham di dalam Kej 16:22. Hal ini juga menunjukkan kepada kita bahwa jika Abraham gagal di dalam ujian ini, maka dia tidak akan menerima janji Allah. Kitab Ibrani juga berulang kali menyebutkan tentang iman Abraham. Abraham menyempurnakan imannya dengan perbuatan. Mari kita lihat Ibrani 11:8-9. Ayat 8 memberitahu kita bahwa Abraham taat dan berangkat dengan iman menuju tempat yang ditunjukkan oleh Allah kepadanya. Ayat 9 juga memberitahu kita bahwa Abraham dengan iman menjadi perantau, atau orang asing, di bumi ini sambil menantikan janji Allah. Jadi Anda bisa lihat, Abraham menyatakan imannya kepada Allah melalui tindakan nyata. Dalam hal apakah kita, orang-orang yang mengaku memiliki iman ini, memiliki keserupaan dengan Abraham? Allah menyuruh kita untuk meninggalkan dosa - sudahkah kita bertindak meninggalkan dosa? Allah menyuruh kita untuk tidak mengasihi dunia akan tetapi masihkah hati kita merindukan dunia? Yesus menyuruh kita memikul salib, mengasihi Allah lebih dari segalanya, dan menyangkal diri kita untuk bisa mengikut Dia - apakah kita sekadar mempercayai itu semua di dalam akal pikiran saja tanpa ada tindakan nyata yang menegaskannya? Sudah tentu iman semacam ini bukanlah iman milik Abraham, dan itu jelas bukan iman yang menyelamatkan. Mari kita lihat contoh yang terakhir. Rasul Yakobus menyebut tentang seorang pelacur, Rahab. Dengan cara apakah iman Rahab ditunjukkan? Imannya terwujud lewat pilihannya untuk meninggalkan kejahatan dan berpaling kepada Yahweh ketika dia mendengar tentang penghakiman Allah yang akan ditimpakan ke atas kota Yerikho (karena sudah penuhnya kejahatan penduduk Yerikho). Dia mempercayai Firman Allah. Dia percaya bahwa penghakiman akan turun ke atas kota Yerikho. Imannya bukan sekadar iman di tingkat akal pikiran saja, melainkan iman yang disempurnakan lewat tindakan nyata. Apa wujud nyata dari imannya yang bisa kita amati? Kita melihatnya melalui tindakan nyata yang dia lakukan dengan menampung mata-mata Israel dan membantu mereka menjalankan perintah Allah. Inilah yang dimaksudkan oleh Yakobus ketika dia berbicara bahwa iman itu disempurnakan oleh perbuatan. Renungkanlah: apakah Anda pikir Rahab akan diselamatkan jika dia hanya sekadar membuat pengakuan percaya bahwa Allah akan menghakimi penduduk Yerikho tanpa memberikan bantuan kepada mata-mata Israel itu? Satu hal yang tidak masuk hitungan adalah bahwa Rahab adalah seorang pelacur menurut penuturan Yakobus. Mengapa dia mengingatkan kita bahwa Rahab adalah seorang pelacur? Ya, Rahab adalah seorang pelacur sebelum dia bertobat. Akan tetapi, dia memilih untuk bertobat dan berpaling kepada Allah dengan iman. Dia juga taat pada kehendak Allah. Oleh karena itu, Allah membenarkan dia. Jika Anda belum percaya kepada Yesus, saya harap Anda dapat ingat akan hal ini: kepercayaan kepada Allah harus diikuti dengan tindakan nyata. Inilah sebabnya mengapa Alkitab selalu mendorong kita untuk mengakui dosa- dosa kita dan bertobat. Pengakuan dan pertobatan atas dosa adalah langkah pertama di dalam menyatakan iman kita kepada Allah lewat tindakan nyata. Melalui contoh Rahab, kita bisa lihat bahwa Allah penuh dengan kemurahan dan belas kasihan. Dia pasti akan menerima kita seperti Dia telah menerima Rahab kalau saja kita mau berpaling kepada-Nya dengan iman.
di ayat 26. Ia menyamakan iman dengan tubuh dan perbuatan dengan roh. Tidakkah perbandingan seperti ini mengagetkan Anda? Tidaklah ini secara tidak langsung memberitahu kita bahwa perbuatan itu lebih penting dari iman? Pada kenyataannya, rasul Yakobus mengulangi kesimpulan ini sebanyak tiga kali di ayat-ayat 21, 24 dan 25. Ia berkata, "Manusia dibenarkan oleh perbuatan.' Bagaimanapun Anda harus berhati-hati membaca kata-kata Yakobus. Di ayat 24, ia menekankan bahwa Manusia dibenarkan oleh perbuatan dan bukan hanya oleh iman tetapi penekanan kita pada hari ini adalah : pembenaran itu hanya oleh iman. Sangat disayangkan Alkitab tidak menyatakan hal demikian. Apa yang dikatakan oleh Alkitab justru yang bertentangan - 'pembenaran bukan hanya oleh iman', Dengan demikian, prinsip kedua adalah : perbuatan itu lebih penting dari iman. Mengapa rasul Yakobus tiba kepada kesimpulan yang begitu mengherankan? Sebenarnya, kata-kata itu tidak berasal dari dirinya sendiri. Ia hanya sekadar menjelaskan apa yang diajarkan oleh Yesus.
Orang Kristen dan ucapan-ucapan mulutnya 3:1-18
Ayat 1-6, Yakobus 3.1-12 mengingatkan kita tentang lidah kita, bahwa percakapan kita mencerminkan kondisi spiritual kita. Mungkin prinsip ini kedengarannya aneh tetapi hal ini sangatlah benar di dalam praktek. Sebagai contoh, memerhatikan hal lidah adalah salah satu alat diagnostik yang digunakan dalam pengobatan Cina untuk mengukur keadaan kesehatan seseorang. Jika Anda ke seorang sinseh, ia seringkali akan meminta Anda untuk menjulurkan lidah Anda untuk ia periksa. Kepada orang yang tidak berpengalaman, ini bukan suatu hal yang berarti. Tetapi kepada seorang doktor yang berpengalaman, warna dan bentuk lidah Anda menyingkapkan banyak hal tentang kondisi kesehatan Anda. Ini juga benar di tingkat spiritual. Kata-kata yang lazim Anda ucapkan secara langsung menggambarkan kondisi spiritual Anda. Sebagai contoh, saat Anda tidak puas atau jengkel dengan seseorang, Anda akan secara natural mengungkapkan ketidak-puasan Anda terhadap orang itu setiap kali Anda berbicara mengenainya. Mari kita lihat pada Matius 12.33-37. Di sini Yesus memberitahu kita bahwa pohon yang baik menghasilkan buah yang baik dan buah yang tidak baik akan menghasilkan buah yang tidak baik. Buah macam apa ini? Hal apa tentang seseorang yang dapat memberitahu kita apakah ia satu pohon yang baik atau tidak? Yesus memberitahu kita bahwa hal yang memberitahu kita adalah ucapan orang itu karena semua yang keluar dari lidah datangnya dari renungan hatinya - intisari atau esensi siapa kita sebenarnya. Yesus memberitahu kita bahwa ucapan orang yang baik sangatlah baik karena hatinya baik; ucapan yang mengalir dari orang yang hatinya jahat adalah jahat karena apa yang keluar dari hati adalah jahat. Jadi, apa Anda melihatnya? Rasul Yakobus tidak sedang berbicara dari pikirannya sendiri tetapi ia sedang menguraikan ajaran Yesus. Hal kedua, kita lihat dari ayat 4-5 bahwa lidah mempunyai kuasa yang besar untuk mempengaruhi walaupun ukurannya sangatlah kecil. Yakobus 3.4 membandingkan lidah kepada kemudi kecil yang dapat mengendali arah sebuah kapal walaupun ia sangat kecil dibandingkan dengan ukuran kapal. Ayat 5 berkata bahwa lidah itu adalah anggota paling kecil di antara anggota-anggota tubuh namun ia dapat membanggakan hal-hal yang besar. Lidah juga seperti percikan api kecil yang dapat membuat seluruh hutan terbakar.
ayat 6, lidah dapat mengarahkan hidup kita ke dalam api. Dengan kata lain, ia dapat membinasakan hidup. Hal inilah yang diperingatkan oleh Yesus kepada kita di Matius 5.22, 'dan barangsiapa yang berkata, 'Kamu jahil/bodoh', sudah layak diutus ke neraka yang menyala-nyala.' Apakah Anda memahami apa artinya ini? Banyak orang setelah mereka percaya pada Tuhan, mereka tidak berani untuk menggunakan kekerasan untuk membalas orang yang telah membuat mereka tidak senang. Tetapi, mereka menggunakan lidah mereka untuk membalas. Mereka akan menggunakan kata-kata untuk menyakiti orang lain atau mereka akan memfitnah orang di belakang. Berwaspadalah karena Yesus memberitahu kita bahwa Ia akan menghakimi kita untuk setiap kata yang tidak membangun. Perlu diperhatikan bahwa Matius 12.36-37 memberi kita satu peringatan yang sangat keras. Yesus sendiri memberitahu kita bahwa Allah akan menggunakan kata-kata yang kita ucapkan untuk menghakimi apakah kita benar atau jahat pada Hari Penghakiman itu nanti. Perhatikan ayat 37 berbicara mengenai 'dibenarkan' atau 'dihukum'. Bukankah di pesan yang lalu kita berbicara mengenai bagaimana seseorang dibenarkan? Yesus memberitahu kita di sini bahwa penghakiman didasarkan pada setiap kata yang keluar dari lidah kita karena ucapan kita mencerminkan siapa kita. Saya harap di saat kita membaca ayat 6, kita mengerti bahwa Yakobus tidak sedang berkata bahwa lidah itu sendiri jahat. Seperti yang dikatakan oleh Yakobus 1.17, segala sesuatu yang Allah karuniakan itu baik, karena itu, lidah itu baik karena itu adalah pemberian Allah. Tidaklah mungkin bagi Allah untuk memberikan kita sesuatu yang jahat. Yakobus memberitahu kita bahwa masalah dengan lidah sebenarnya mencerminkan masalah yang ada di dalam diri kita. Kita tidak dapat melihat dengan mata kita sendiri bagaimana diri kita di dalam, tetapi kita dapat melihat bagaimana keadaan batin kita dengan melihat pada ucapan kita.
Dalam ayat 7, Yakobus berbicara tentang pencapaian manusia. Kita adalah orang- orang yang hidup dalam abad ke21 dan mampu untuk menyaksikan berbagai macam prestasi yang besar dari umat manusia. Seperti apa yang dikatakan Yakobus, semua jenis hewan, burung, seranggga dan ciptaan di laut telah ditundukkan oleh manusia.
Namun di ayat 8, Yakobus menunjuk pada tragedi yang melanda umat manusia yaitu manusia pada kenyataannya kita tidak memiliki kuasa untuk mengekang lidahnya. Apa yang mau dikatakan oleh Yakobus di sini adalah kita memiliki banyak pencapaian yang besar, akan tetapi kita tidak memiliki kuasa untuk mengatasi dosa-dosa di dalam hati kita. Kita mengatasi segalanya akan tetapi kita hidup di bawah ikatan dosa dan telah menjadi hamba dosa. Walaupun manusia telah mencapai banyak hal sekarang ini, namun tidak pernah ada damai.
Ayat ke-9, Yakobus menyatakan kepada kita bahwa, kita tidak dapat memberkati Bapa di surga dengan lidah kita dan mengutuk ciptaan yang dibuat oleh Allah dalam gambaran-Nya pada waktu yang bersamaan. Bagaimana kita mengetahui apakah kita adalah orang yang melakukan Firman dan bagaimana kita mengetahui bahwa kita memiliki iman yang menyelamatkan? Yakobus sudah memberikan kepada kita gambaran yang sangat praktis. Jika Anda sering memuliakan Allah dengan mulut Anda tetapi mengutuk saudaramu pada waktu yang sama, inilah waktunya Anda memikirkan dan menguji apakah Anda benar-benar memiliki iman yang menyelamatkan. Karena Yakobus memberitahukan di ayat 11 bahwa satu sumber air tidak memancarkan air yang pahit dan yang manis di waktu yang bersamaan. Jika Roh Kudus benar-benar adalah raja atas hidup orang yang telah lahir baru, bagaimana mungkin ia dapat melawan kehendak Allah dengan mengutuk sesama? Mustahil! Bahkan ketika kita berbicara atau menyatakan sesuatu yang salah tanpa sengaja Roh Kudus akan mengingatkan kita untuk bertobat secepatnya.
di dalam ayat 11-12. Yakobus katakan kepada kita bahwa satu mata air tidak mengalirkan dua sumber rasa, yaitu manis dan pahit pada waktu yang bersamaan. Lidah kita mencerminkan kondisi hati kita. Seperti yang Yesus katakan, kebaikan dihasilkan oleh orang yang baik sedangkan kejahatan dari orang yang jahat.
Ayat 13-18, dimana Yakobus membandingkan dua tipe hikmat. Satunya berasal dari atas yang mana adalah hikmat surgawi dan yang lain ialah hikmat duniawi. Kedua tipe hikmat ini sebenarnya ialah dua kualitas hidup yang berbeda secara total. Ciri hikmat dunia ialah kepahitan, sedangkan hikmat dari atas adalah kelemah-lembutan. Kelemah-lembutan yang dimaksudkan oleh Yakobus bukanlah kelemahan manusia, bukan orang yang tidak punya opini atau memiliki karakter yang lembek. Akan tetapi, hikmat yang dimaksudkan oleh Yakobus mengarahkan pada karakter Allah. Jika kita benar-benar lahir dari Allah, kita juga akan memanifestasikan karakter hidup Yesus, yaitu kelemah- lembutan. Mengapa kelemah-lembutan begitu penting? Itu karena hati yang lembut ialah hati yang tunduk total dimana ia mempersilakan atau mengizinkan Allah untuk bekerja di dalamnya dan menggenapi kehendaknya. Sebab itu, ketika Yesus berkata bahwa Ia lemah lembut dan rendah hati, Ia mau memberitahukan kita bahwa Ia tunduk total kepada Bapa Surgawi. Ketaatannya yang total kepada Bapa Surgawilah yang memungkinkan Allah menggenapi rencana keselamatan melalui Yesus. Yakobus juga memberitahukan bahwa justru karena sifat alami kedua hikmat tersebut sangat berbeda maka efek yang dihasilkan juga secara total berlawanan. Seseorang yang memiliki hikmat surgawi, hidupnya akan membuahkan damai. Sebaliknya, seorang dengan hikmat duniawi, apa yang dibawa untuk orang-orang di sekitarnya adalah kecemburuan, perselisihan dan kekacauan. Hikmat surgawi ialah hal yang harus kita kejar karena ini berkaitan dengan persoalan apakah kita dapat menghasilkan buah untuk Tuhan. Jika kita adalah orang Kristen, kita harus menilai kehidupan kita dan mengevaluasi seperti apa hidup kita. Jangan lupa - Yakobus sedang berbicara mengenai pra-syarat menjadi guru sebelum hal ini. Jika seorang hamba Allah tidak memiliki hikmat surgawi, ia hanya akan membawa masalah-masalah seperti kecemburuan, perselisihan dan kekacauan kepada Gerejanya. Pada akhirnya, hamba Allah yang tidak memiliki hikmat surgawi akan memimpin gerejanya pada kehancuran dan bukannya pembangunan. Hari ini, kita akan melanjutkan dengan membaca Yak 3: 13-18. Kita akan meneliti dengan hati-hati perbedaan antara hikmat surgawi dan hikmat duniawi. Mari kita membaca Yak 3:14. Ayat 14 berkata, "Jika kamu menaruh perasaan iri hati dan kamu mementingkan diri sendiri, janganlah kamu memegahkan diri dan janganlah berdusta melawan kebenaran!"
Iman bukan dari perkataan dan kita harus menyatakan dalam perbuatan. Dalam cara yang sama, ketika Allah menjadi Raja dalam hidup kita, Roh Kudus akan melakukan transformasi dan hidup kita menjadi bersih. Cara kita memperlakukan orang lain akan menciptakan perdamaian dan sikap kita terhadap orang lain menjadi lembut dan rendah hati, penuh dengan belas kasihan. Semua ini bukanlah dari perkataan tetapi dimanifestasikan melalui kelakuan kita. Dengan cara yang sama, jika kita tidak memiliki hikmat surgawi itu juga akan terlihat melalui tindakan kita. Mari kita membaca Yak 3:14-16. Di sini dikatakan, jika kamu menaruh perasaan iri hati dan kamu mementingkan diri sendiri, efeknya dalam hubungan sesama adalah iri hati., perselisihan, kekacauan dan segala macam perbuatan jahat. Semua ini adalah pengaruh buah yang kita hasilkan. Jangan berpikir kita adalah orang Kristen yang baik hanya karena kita memiliki semangat untuk melayani. Dalam ayat ke 14, kata "Iri hati" menurut arti asli merujuk kepada "semangat". Di dalam Alkitab, ada dua macam semangat. Yang satu muncul dari kasih sedangkan yang satunya berasal dari hati yang berkompetisi. Kita harus menyelidiki motivasi dari semangat kita, apakah semangat itu benar-benar keluar dari kasih pada Allah dan pada Gereja-Nya? Atau karena kepahitan atau iri dalam hati kita? Jika kita memiliki kepahitan dalam hati kita, semangat kita akan membawa banyak iri hati dan perselisihan dalam gereja. Kelakuan kita akan menunjukkan seperti apa hikmat yang kita miliki.. Kata "kepahitan" adalah lawan dari kelemahlembutan. Ini menunjuk kepada suatu sikap persaingan. Mari kita melihat sebuah contoh. Dicatat di Kisah 8:18-23. Simon sangat bersemangat dan Ia menginginkan kuasa yang dimiliki oleh rasul Petrus. Petrus dapat melihat bahwa semangat Simon itu berasal dari kepahitan.
Orang Kristen dan dunia 4:1-5:6
awal pasal 4 dikatakan bahwa gereja memiliki iri hati, peperangan dan pertengkaran dan terdapat persaingan yang disebabkan oleh iri hati di antara saudara seiman. Apa yang sebenarnya di perjuangkan oleh mereka? Semua ini ada hubungannya dengan masalah yang disinggung di pasal 3, yaitu keinginan untuk menjadi guru. Rasul Yakobus sudah berbicara mengenai masalah iri hati dan pertengkaran di Yak 3:14 dan 16. Iri hati dan pertengkaran ini tentunya ada hubungannya dengan perkelahian di antara sesama mereka dalam hal ingin menjadi guru. Mengapa mereka sampai bertengkar untuk hal itu? Jika Anda adalah seorang Kristen yang hati dan pikirannya belum ditransformasi, Anda akan secara alami melihat status seorang guru dari perspektif dunia. Banyak orang Kristen mau menajdi guru rohani sebagai cara untuk menaikkan status mereka di gereja; bahkan 12 murid Yesus juga memiliki masalah yang sama. Mari kita membaca Luk 22:24-27. Kita melihat bahwa ke-12 murid juga bertengkar mengenai siapa yang terbesar diantara mereka. Yesus harus berulang kali mengingatkan mereka bahwa prinsip kerajaan Allah berlawanan dengan dunia. Dalam cara yang sama, ada banyak orang Kristen sekarang ini yang ingin menjadi guru karena kesombongan dan ego mereka. Itulah sebabnya Rasul Yakobus mengingatkan mereka di ayat 6, Allah menentang orang yang congkak. Jika masalah seperti itu muncul pada gereja mula-mula dimana mereka dipimpin oleh rasul-rasul, apa lagi kita! Oleh sebab itu, janganlah kita cepat mengkritik ataupun memandang rendah mereka.
Ayat 2, kita melihat Yakobus menggunakan kata yang sangat mengagetkan "pembunuh". Pembunuh berarti membunuh seseorang. Mengapa ia menggunakan kata yang sedemikian keras? Gereja tidak dapat mengelak dari pertengkaran dan iri hati, tapi setidaknya tidak sampai menghilangkan nyawa seseoarang akibat iri hati dan pertengkaran. Sampai sekarang, saya belum pernah melihat dengan mata saya sendiri pertengkaran di gereja sampai menghilangkan nyawa seseorang. Kata "pembunuh" ini berarti membunuh orang secara literal. Bagaimanapun, kita harus mengerti bahwa kata "membunuh" yang di dalam Alkitab tidak selalu berarti membunuh orang tertentu. Mari kita membaca Roma 3:13-17. Perhatikan beberapa kata khusus di sini, seperti tenggorokan, lidah, bibir, mulut dan beberpa kata lain yang digunkan untuk menggambarkan pembunuhan seperti kuburan, gas beracun, pertumpahan darah, mutilasi dan sebagainya. Paulus sedang memberitahukan pada kita bahwa ketika seseorang tidak memiliki rasa takut akan Allah, ia pada akhirnya akan menjadi seorang pembunuh. Senjata yang ia gunakan bukanlah pisau atau senapan tetapi lidah. Apakah kita menyadari bahwa lidah kita adalah senjata pembunuh yang efektif yang dapat membunuh seseorang tanpa meneteskan darah. Ketika kita memiliki iri hati dan pertengkaran akibat keinginan egois, namun sebagai seorang Kristen sudah pasti kita tidak akan menggunakan metode-metode dunia untuk menyerang musuh kita. Kita akan menggunakan metode yang lebih "rohani" untuk menangani mereka. Kita akan menggunakan lidah kita untuk menuduh mereka di belakang mereka. Tentunya, kita akan sangat "berhikmat" dalam melakukannya karena kita tahu bahwa Alkitab tidak mengijinkan kita untuk memfitnah orang lain.
di ayat 4, "barang siapa hendak menjadi sahabat dunia dalam hati mereka adalah musuh- musuh Allah". Apakah ungkapan ini mengagetkan Anda? Mungkin kita bisa berkata bahwa kita bukanlah sahabat dunia. Setidaknya dalam tindakan kita, kita tidak mengikuti trend atau gaya dunia. Bagaimanapun, apakah Anda berani berkata bahwa Anda tidak memiliki keinginan untuk dunia dalam hati dan pikiran Anda tidak memiliki keinginan untuk dunia dalam hati dan pikiran Anda? Yakobus berkata bahwa semua yang ingin menjadi sahabat dunia (tolong dicatat kata 'semua'), ia adalah musuh Allah. Apa arti menjadi sahabat dunia? Kapan kita dianggap sebagai sahabat dunia? Kita akan meninjau pertanyaan ini di lain waktu. Saya harap kita semua akan merenungkan Yak 4:4 dan biarkan firman Tuhan menerangi hati dan pikiran kita. Apakah kita sedang berdamai dengan Allah atau kita sedang menjadi lawan-Nya?
Berbagai-bagai petunjuk 5:7-20
Pasal pasal 5 ini yakobus dalam tulisan lebih banyak menguraikan tentang akhir zaman atau tentang kedatangan Tuhan Yesus yang semestisnya orang-orang percaya saling menopang antara satu dengan yang lainnya dan bagi orang yang kaya dan sombong jika pada hari yang telah di tentukan tidak kembali bertobat kepada Tuhan akan menerima ganjaran yang setimpal dari Tuhan.
Jadi pada pasal 5 ini yakobus lebih menekankan akan rasa saling mengasihi antara sesama dan mewujudkan nyatakan kasih yang nyata antara sesama umat manusia.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Dengan demikian secara keseluruhan Yakobus mengajarkan bahwa sekalipun orang Kristen sudah dimerdekakan dari dosa oleh iman kepada Kristus, itu tidak boleh diartikan bahwa orang Kristen lalu merdeka untuk berbuat dosa!. Satu hal penting yang perlu kita ingat adalah : jangan berbuat apa-apa supaya anda diselamatkan/masuk surga (cukup beriman saja kepada yesus). Tetapi lakukanlah perbuatan baik sebagai bukti bahwa anda benar-benar sudah diselamatkan.
Yakobus menasihati orang Kristen supaya hidup harmonis antara internal (anugrah Tuhan yang diterima) dan eksternal (kenyataan hidup sehari-hari). Surat Yakobus ini searah dengan nasihat Rasul Paulus agar orang Kristen hidup sesuai dengan panggilannya (Filipi 1:27), agar Kristus di dalam hati orang Kristen nyata bagi semua orang (2 Korintus 13:5, Kolose 3: 15-16), dan agar orang Kristen menjadi surat Kristus yang tertulis yang bisa dibaca oleh setiap orang (2 Korintus 3: 1-3). Tuhan memanggil gereja-Nya untuk menguji diri apakah kehidupan eksternal telah sesuai dengan realitas internal? Jikalau tidak, maka kita perlu bertobat dan diperbarui oleh Tuhan. Surat Yakobus tetap berbicara kepada orang Kristen pada zaman ini untuk evaluasi diri
Aplikasi dari surat Yakobus
Surat Yakobus ini banyak membicarakan mengenai hal-hal praktis dalam kehidupan orang percaya. Dan bagi saya pribadi, surat yakobus ini kembali mengingatkan saya dalam perwujudnyataan iman saya kepada Yesus yang harus saya nyatakan dalam perbuatan saya, dalam sikap hidup saya sesehari. Seperti Yakobus tekankan bahwa iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah mati. Seperti tubuh tanpa roh, itulah iman tanpa perbuatan.

DAFTAR PUSTAKA
1.…….., Alkitab, Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), Jakarta
2.Tulluan, Ola (1999) Introduksi Perjanjian Baru, Malang: Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil Indonesia (YPPII)
3.Santosa, Ester. dkk. 2004. Pedoman Lengkap Pendalaman Alkitab (Terj). Kalam Hidup
4.Sutanto, Hasan (2006), Surat Yakobus Berita Perdamaian Yang Patut Didengar, Malang; Literatur SAAT.
5.Widjana, Doreen (2004) Surat Yakobus-Kupasan Firman Allah, Bandung; Lembaga Literatur Baptis
6.Tenney, Merrill C. (1992) Survey Perjanjian Baru, Malang; Gandum Mas
7.Hadiwijayata, A.S. (2006)Tafsiran Alkitab Perjanjian Baru (Terj). Yogyakarta; Kanisius
8.www.sabda.org/sabdaweb/bible/pengantaryerusalem-yakobus
[1] www.sabda.org/sabdaweb/bible/pengantaryerusalem-yakobus
[2] Introduksi Perjanjian Baru. Olla Tulluan. Hal 253
[3] Tafsir Alkitab Perjanjian Baru, Dianne Bergant dan Robert J. Karris, hal . 434
[4] www.sabda.org/sabdaweb/bible/pengantaryerusalem-yakobus
[5] Handbook to the bible, Yayasan Kalam HIdup, hal. 715
[6]Surat Yakobus berita perdamaian yang patut didengar, Pdt Hasan Sutanto, D.Th. Literatur SAAT. Hal.40
[7] Introduksi Perjanjian Baru. Olla Tulluan. Hal 259.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment